IHSG Tiba-Tiba Balik Kanan Jadi Merah, Ada Apa?

Layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (10/5/2023). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan kedua pekan ini (16/5/23) penguatan sebesar 0,22% menjadi 6726,19. Namun sayang, selang beberapa menit, IHSG berbalik arah.

Pada pukul 09.03,https://188.116.26.234/https://188.116.26.234/ IHSG menyusut dengan penurunan tipis 0,09% mencapai level 6.705,56. Perdagangan mencatatkan 178 saham naik, 143 saham turun, sementara 211 saham lainnya bergerak mendatar.

Tidak hanya itu, perdagangan juga menunjukkan aktivitas transaksi yang melibatkan sebanyak 638 juta saham, dan baru mencapai nilai perdagangan sebesar Rp 297 juta.

Beberapa faktor yang akan mewarnai pergerakan IHSG hari ini antara lain sentimen positif surplusnya neraca dagang Indonesia bulan April 2023 serta pertemuan antara Presiden Joe Biden dengan Ketua DPR dari Partai Republik Kevin McCarthy dalam rangka membahas plafon utang pemerintah AS.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan ini merupakan surplus yang ke-36 bulan berturut-turut. Surplus tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Maret 2023 yang mencapai US$ 2,91 miliar.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Imam Machdi mengungkapkan surplus terjadi akibat penurunan posisi impor yang lebih rendah dari ekspor. Impor nonmigas mengalami penurunan sepanjang April 2023 sebesar 22,27% secara tahunan.

Sementara itu, pertemuan antara Presiden Joe Biden dengan Ketua DPR dari Partai Republik Kevin McCarthy menjadi perhatian utama para pelaku pasar. Maklum saja, kurang lebih dua pekan kedepan, Amerika Serikat terancam mengalami gagal bayar (default) jika batas pagu utang tidak dinaikkan.

Partai Republik yang merupakan oposisi menguasai DPR AS, sehingga menyulitkan bagi Biden untuk meloloskan anggaran belanja. Baik anggota Parta Demokrat maupun Republik sedang mencari landasan yang sama dalam hal belanja dan regulasi energi sebelum Biden dan McCarthy bertemu besok.

Partai Republik sudah berulang kali menegaskan tidak akan menaikkan pagu utang jika pemerintah tidak memangkas belanja dengan besar alias melakukan penghematan.

Kabar baiknya, pemerintah di Gedung Putih masih mempertimbangkan syarat dari Partai Republik tersebut, sehingga peluang dinaikkannya batas pagu utang terbuka, dan Amerika Serikat bisa lolos dari gagal bayar yang berisiko membuat perekonomian AS merosot.

Berkaca dari sebelumnya, kisruh pagu utang membuat Amerika Serikat mengalami kerugian miliaran dolar. Itu pun yang terjadi bukan gagal bayar, baru sebatas shutdown atau penutupan sebagian layanan pemerintahan karena tidak adanya anggaran.

Shutdown bukan hal yang baru, pernah terjadi berkali-kali di AS. Yang terakhir dan masih segar di ingatan adalah shutdown di era pemerintahan Presiden AS ke-45, Donald Trump.

Sama seperti tahun ini, saat itu di 2018, Partai Demokrat menolak rancangan anggaran dari Partai Republik yang menguasai pemerintahan. Akhirnya anggaran sementara diloloskan, tetapi hingga akhir tahun belum ada kesepakatan untuk anggaran satu tahun fiskal 2019. Alhasil, pemerintahan AS shutdown selama hampir 35 hari, mulai 22 Desember 2018 hingga 25 Januari 2019.

Shutdown tersebut merupakan yang terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat, dan berdampak cukup besar terhadap perekonomian. Menurut Congressional Budget Office (CBO), shutdown tersebut berdampak ke perekonomian sebab sekitar 800.000 tenaga kerja dirumahkan, kemudian belanja pemerintah federal juga menjadi tertunda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*