IHSG Jeblok, 6 Saham Big Cap Ini Jadi Biang Keroknya

Pengunjung melintas dan mengamati pergerakan layar elektronik di di Jakarta, Selasa (2/1/2018).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terkoreksi pada perdagangan sesi I Jumat (10/3/2023), di tengah memburuknya sentimen pasar global hari ini.

Per pukul 10:22 WIB, IHSG melemah 0,62% ke posisi 6.757,43. IHSG bergerak direntang 6.752,85 – 6.799,8 pada perdagangan sesi I hari ini.

Terpantau enam saham berkapitalisasi pasar besar (big cap) menjadi pemberat laju pergerakan indeks pada perdagangan sesi I hari ini.

Berikut saham-saham yang menjadi pemberat (laggard) IHSG hari ini.

Emiten Kode Saham Indeks Poin Harga Terakhir Perubahan Harga
Bank Central Asia BBCA -7,11 8.475 -1,17%
Bank Mandiri BMRI -5,90 10.325 -1,20%
GoTo Gojek Tokopedia GOTO -3,77 127 -1,55%
Astra International ASII -3,48 5.975 -0,83%
Bank Negara Indonesia BBNI -2,36 9.025 -1,37%
Merdeka Copper Gold MDKA -2,01 4.060 -1,93%

Sumber: Refinitiv & RTI

Saham emiten perbankan berkapitalisasi pasar paling ‘jumbo’ di bursa yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terpantau menjadi pemberat IHSG paling besar hari ini, yakni mencapai 7,11 indeks poin.

Sedangkan di posisi kedua, ada lagi saham perbankan berkapitalisasi jumbo keempat di bursa yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), yang memberatkan indeks hingga 5,9 indeks poin.

Terakhir, ada saham emiten pertambangan emas dan mineral lainnya yakni PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), yang membebani IHSG sebesar 2,01 indeks poin.

Sentimen pasar kembali memburuk, terutama di Amerika Serikat (AS) setelah investor melepas saham-saham perbankan di AS. Hal ini terjadi setelah adanya indikasi bahwa perusahaan pemberi pinjaman industri teknologi SVB Financial Group menjual saham untuk menopang neraca karena penurunan simpanan dari startup yang berjuang untuk pendanaan.

Ini memicu kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga akan mengikis neraca emiten.

Alhasil, saham-saham perbankan di AS terkena aksi profit taking besar-besaran yang menyebabkan saham perbankan di AS mengalami koreksi parah.

Meski begitu, investor masih berfokus pada pernyataan Ketua bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), Jerome Powell pada Rabu dan Kamis.

Powell mengisyaratkan kenaikan suku bunga lebih lanjut membuat kegalauan pasar keuangan semakin nyata, yang membuat pasar terpecah antara menginginkan The Fed menurunkan inflasi, kendati demikian rasa khawatir juga muncul penurunan bakal berlebihan sehingga menyebabkan tekanan ekonomi yang terus berlanjut.

Selain itu, pasar masih memperhatikan data ketenagakerjaan di AS, di mana data ini menjadi salah satu penyebab The Fed masih mempertahankan sikap hawkish-nya.

Data ekonomi Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan mencatatkan penurunan tipis pada bulan Januari tetapi masih jauh melebihi jumlah pekerja yang tersedia karena gambaran tenaga kerja tetap ketat.

Hal ini membuat pejabat The Fed mengamati laporan JOLTS dengan cermat saat mereka merumuskan kebijakan moneter.

Selanjutnya pada hari ini, investor akan memantau rilis data penggajian non-pertanian (non-farm payroll/NFP) dan data ini juga akan menjadi pertimbangan The Fed untuk menentukan kebijakan moneter selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*